Enter your keyword

Teknokultur

Program Studi Magister Teknokultur didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2013 tentang Statuta ITB dan kebijakan pengembangan Ilmu Sosial dan Humaniora di ITB oleh Senat Akademik ITB (31 Desember 2015), rekomendasi Senat Akademik ke Rektor ITB tanggal 28 Oktober 2016 tentang Pembukaan Prodi Magister Teknokutur. Program ini telah memperoleh ketetapan BAN PT tertanggal 4 April 2018 bahwa Prodi Magister Teknokultur telah memenuhi syarat minimum akreditasi sebagai bagian proses pembukaan prodi. Pada tanggal 25 Maret 2025 tim yang dibentuk Sekolah Pascasarjana ITB merekomendasikan pembukaan Prodi Magister Teknokultur. Pengembangan keilmuan Teknokultur selaras dengan RENIP ITB 2025-2050 yang menitikberatkan pada Human Centric (Kemanusiaan).

Teknokultur didefinisikan sebagai bidang kajian interdisiplin yang mengkaji bagaimana sistem sains dan teknologi terkait erat dengan kerangka sosial, identitas, dan dinamika kekuasaan, serta mengeksplorasi hubungan timbal balik antara sains, teknologi, dan perilaku manusia (Shaw, 2008).

Visi Program Magister Teknokultur ITB dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan analitis dan reflektif dalam memahami dampak teknologi terhadap kehidupan manusia. Mahasiswa diajak untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup, memperkuat solidaritas sosial, dan menciptakan sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Fokus utama program ini adalah pada pengembangan teknologi yang berorientasi pada manusia, bukan semata pada efisiensi atau profit.

Misi program Magister Teknokultur ialah untuk menciptakan generasi profesional yang mampu mengarahkan perkembangan teknologi agar sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Teknologi harus menjadi alat untuk memperkuat integritas sosial, memperluas akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta mendukung pembangunan yang adil dan merata. Lulusan program ini diharapkan mampu menjadi pemimpin perubahan yang mengedepankan etika dan tanggung jawab sosial dalam setiap keputusan teknologi.

Secara global, pendekatan teknokultur yang berbasis teknologi dan humaniora membuka peluang untuk membangun dialog lintas negara yang lebih bermakna, di mana teknologi menjadi medium untuk memperkuat kerja sama internasional, menghormati hak asasi manusia, dan mendorong inovasi yang berkelanjutan. Dalam 25 tahun ke depan, program ini diharapkan menjadi pusat unggulan dalam pengembangan teknologi yang berpihak pada manusia, serta menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem teknologi yang inklusif, etis, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Program Magister Teknokultur ITB hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mendesak akan pendekatan teknologi yang lebih manusiawi, reflektif, dan bertanggung jawab. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi dan terdorong oleh kecerdasan buatan, penting bagi masyarakat untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan manusia, serta bagaimana manusia dapat mengarahkan teknologi agar tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Studi teknokultur menawarkan kerangka analisis yang memungkinkan mahasiswa untuk mengevaluasi dampak teknologi secara kritis, merancang solusi yang inklusif, dan mengembangkan inovasi yang tidak hanya efisien tetapi juga bermakna. Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap proses teknologi, memastikan bahwa kemajuan teknis tidak mengabaikan aspek-aspek penting seperti keadilan sosial, etika, dan kesejahteraan kolektif.

Lulusan program ini diharapkan mampu menjadi pemimpin perubahan yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap isu-isu kemanusiaan. Mereka akan berperan dalam berbagai sektor—pemerintahan, industri, pendidikan, dan organisasi internasional—sebagai penggerak transformasi teknologi yang berorientasi pada nilai-nilai universal seperti empati, tanggung jawab, dan keberlanjutan.

Dengan pendekatan yang menggabungkan analisis kritis, refleksi etis, dan strategi implementasi yang inklusif, Program Magister Teknokultur ITB menjadi fondasi penting dalam membentuk masa depan teknologi yang lebih adil dan berkelanjutan. Teknologi tidak lagi dipandang sebagai kekuatan yang netral, tetapi sebagai sistem yang harus diarahkan secara sadar untuk memperkuat kehidupan manusia dalam segala dimensinya.

Dalam 25 tahun ke depan, program ini diharapkan menjadi pusat unggulan dalam pendidikan interdisipliner yang mengintegrasikan teknologi dan humaniora. Dengan membekali generasi masa depan dengan wawasan kritis dan kemampuan strategis, Teknokultur ITB akan berkontribusi secara signifikan dalam menciptakan ekosistem teknologi yang berpihak pada manusia, inklusif, dan berkelanjutan.

Magister Teknokultur ITB menjadi terobosan dalam menjawab tantangan nasional untuk menciptakan konsep-konsep akademis dan teoretis dengan mengeksplorasi, memahami, memperkuat, menciptakan solusi berkelanjutan, dan mendayagunakan hubungan timbal balik antara teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Studi ini diharapkan akan menciptakan masyarakat yang inklusif, adil, dan kritis dalam menggunakan teknologi. Pada akhirnya, studi magister teknokultur menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa transformasi teknologi di masa depan tidak hanya membawa manfaat material, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat.

Tim penyusun kurikulum terdiri dari para dosen lintas bidang yang memiliki kepakaran dalam bidang teknologi, ilmu sosial dan ilmu humaniora, yang telah memberikan kontribusi pemikiran dalam merancang kurikulum yang tidak hanya relevan secara teoritis, tetapi juga aplikatif dalam menghadapi dinamika dunia dan teknologi modern.

Tujuan pendidikan Program Studi Magister Teknokultur adalah mengubah paradigma alumni pendidikan teknik dari cenderung menjadi pengikut teknologi menjadi pelopor teknologi. Program ini bertujuan untuk:

  1. Mendalami tata kelola agar sains dan teknologi dapat berada di tengah interaksi sosial dan kemasyarakatan.
  2. Menjadi pelopor solusi guna perubahan kualitas kehidupan manusia melalui creative thinking, critical thinking, and creative problem solving.
  3. Membuat peserta didik mengerti hubungan antara kegunaan sains dan teknologi dengan upaya membentuk pola hidup & meningkatkan kualitas kemanusiaan.
  4. Mengarahkan peserta didik untuk mempunyai perspektif kritis yang menghasilkan inisiatif dan kepeloporan untuk analisis dampak, kemungkinan, dan kendala dari interaksi sains dan teknologi terhadap kemanusiaan.

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

  • Lulusan memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, inovatif, dan profesional dalam bidang Teknokultur.
  • Lulusan mampu melanjutkan studi atau pengembangan keprofesian secara berkelanjutan
  • Lulusan mampu mengelola riset multidisiplin dengan pendekatan Teknokultur

 

CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN

  • Mampu mengidentifikasi dan memformulasikan permasalahan teknologi berkaitan dengan masyarakat atau sebaliknya melalui pendekatan multidisiplin.
  • Mampu menciptakan model analisis komunikasi dan mengintegrasikan perspektif sosial-humaniora dalam inovasi teknologi dan sains.
  • Mampu merancang dan melaksanakan penelitian yang mengintegrasikan metodologi sains-teknologi dan sosial-humaniora untuk menghasilkan solusi yang kontekstual dan aplikatif.
  • Mampu mengevaluasi secara kritis dan secara kreatif memilih solusi teknologi yang tepat untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat.
  • Mampu mengembangkan strategi implementasi teknologi yang mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan.
  • Mengaplikasikan semangat belajar sepanjang hayat (life-long learning).

PENERIMAAN MAHASISWA

Kriteria calon mahasiswa Program Studi Magister Teknokultur ITB adalah lulusan Sarjana (S1) dan Diploma IV (D4) khususnya yang berlatar belakang teknologi, Humaniora dan Sosial, Interdisipliner/Lintas Bidang, Aplikasi Teknologi dan Kreativitas dengan IPK minimal: 2,75 dari jenjang S1.

TATA CARA PENERIMAAN MAHASISWA

Secara umum tata cara penerimaan mahasiswa mengikuti aturan penerimaan mahasiswa pascasarjana ITB. Seleksi calon mahasiswa program Pascasarjana ITB terdiri atas 4 tahapan, yaitu:

I. Seleksi kelengkapan dokumen persyaratan, yang terdiri atas:

  1. Ijazah dari tahapan pendidikan sebelumnya
  2. Transkrip dari tahapan pendidikan sebelumnya
  3. Bukti kepemilikan asuransi
  4. Pas Foto
  5. Surat pernyataan tujuan (statement of purpose)
  6. Portofolio pelamar dan rencana riset
  7. Kesediaan calon dosen pembimbing
  8. Rekomendasi dari 2 orang (dosen atau atasan)

II. Seleksi bukti lolos nilai minimum Ujian Potensi Dasar Akademik (UPDA) ITB/Tes Potensi Akademik TPA Bappenas.

III. Seleksi bukti lolos nilai minimum kemampuan bahasa Inggris English Language Proficiency Test (ELPT) ITB sebesar 77.

IV. Seleksi kemampuan akademik yang dilaksanakan di Program Studi Teknokultur. Proses seleksi calon mahasiswa dilakukan melalui wawancara kepada calon mahasiswa oleh Tim Seleksi Masuk untuk melihat kemampuan akademis dan pengalaman penelitian calon mahasiswa.

Calon mahasiswa yang telah lulus seleksi kelengkapan dokumen persyaratan dan seleksi kemampuan akademik diberikan kesempatan menyelesaikan seleksi bukti lolos nilai minimum UPDA ITB/TPA Bappenas dan/atau lolos nilai minimum ELPT ITB pada masa pendaftaran ulang mahasiswa baru gelombang terakhir di semester tersebut.

Jika calon mahasiswa gagal menyerahkan bukti nilai minimum UPDA ITB/TPA Bappenas dan/atau lolos nilai minimum ELPT ITB pada waktu yang telah ditentukan diberi kesempatan untuk mengajukan Permohonan Pengalihan Penerimaan ke semester berikutnya hingga paling lambat hari pertama perkuliahan di semester berjalan.

ITB dapat menerbitkan Surat Keterangan Diterima (Letter of Acceptance) jika calon mahasiswa telah menyelesaikan seluruh tahapan seleksi, yaitu kelengkapan dokumen persyaratan telah lengkap, sertifikat kelulusan UPDA ITB atau TPA Bappenas, kelulusan ELPT ITB dan lulus seleksi kemampuan akademik program studi.

Kurikulum Program Studi Magister Teknokultur memiliki beban minimal 48 SKS untuk Program Studi Magister Teknokultur Jalur Perkuliahan dengan Tesis Riset dan Program Magister Teknokultur Berbasis Riset (MBR) dengan masa tempuh studi normal 3 semester yang terdiri atas: 2 (dua) semester pembelajaran dan 1 (satu) semester penelitian.

Berikut adalah daftar Mata Kuliah Program Studi Magister Teknokultur:

Semester 1 (18-24 SKS):
1. Metodologi Penelitian, Literasi Digital dan Etika Akademik
2. Data & Simulasi
3. Teknologi & Realita Sosial
4. Mata Kuliah Pilihan

Semester 2 (18-24 SKS):
1. Teknolinguistik
2. Psikoteknologi
3. Pengetahuan Kearifan Lokal
4. Proposal Tesis
5. Tesis I
6. Mata Kuliah Pilihan

Semester 3 (18-24 SKS):
1. Tesis II
2. Mata Kuliah Pilihan
3. Sidang Magister

Daftar Mata Kuliah Pilihan:
1. Adaptasi Perubahan Iklim
2. Sains Keputusan
3. Teknoreligi
4. Teknospasial
5. Ekologi Manusia
6. Strategi Politik & Diplomasi
7. Teknoestetika
8. Filsafat Terapan
9. Antropologi Kognitif

Pelaksanaan Program Studi Magister Teknokultur didukung oleh dosen sebagai pengampu mata kuliah atau sebagai pembimbing thesis. Jumlah dosen yang berperan dalam Program Studi Magister Teknokultur adalah sebanyak kurang lebih 60 orang, baik sebagai dosen pengampu mata kuliah, maupun sebagai pembimbing tesis. Dosen-dosen tersebut mempunyai bidang keahlian yang diperlukan oleh Magister Teknokultur dan berasal dari sejumlah Kelompok Keahlian (KK) di ITB.

Prof. Dr. Delik Hudalah, S.T., M.T., M.Sc.
Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra
Prof. Ir. Dicky Rezady Munaf, M.S, M.SCE, Ph.D.
Prof. Ir. Djoko Santoso Abi Suroso, Ph.D.
Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D.
Prof. Udjianna Sekteria Pasaribu, Ph.D.
Dr. Eng. Ir. Mirzam Abdurrachman, S.T, M.T.
Dr. Prima Roza, S.E, M.Ed.
Dr. Nia Kurniasih, M.Hum.
Dr. Sutiadi Rahmansyah, S.S., M.Hum.
Prof. Dr. Henndy Ginting, S.Psi., M.Si.Psikolog.
Dr. Harry Nuriman, M.Si.
Lusia Marliana Nurani, Ph.D.
Dr. Qoriah, M.A.
Dr. Epin Saepudin, M.Pd.
Dr. Ira Adriati, S.Sn., M.Sn.
Dr. Irma Damajanti, S.Sn., M.Sn.
Dr. techn. Dudy Darmawan Wijaya, S.T, M.Sc.
Dr. Utriweni Mukhaiyar, S.Si., M.Si.